Monday, 30 January 2012

ruang tunggu jarak dan waktu

Diska membuka matanya letih. Detik yang sama kepalanya memutar pada pusaran hingar bingar, ia duduk menegakkan kepalanya pada dudukan toilet dan menyeka liur ludah dan muntahnya. Kali ini ia mendarat tertidur di toilet berbantalkan kloset sehabis pesta semalam yang memabukkan. Ia berjalan pelan sesekali membenarkan rok mininya berkaca pada cermin mewah yang tertempel rapih pada dinding porselene apartemen temannya ditengah kota Dublin. Ia merindukan dirinya tanpa memakai gincu, yang berpakaian sederhana seperti waktu berkuliah strata satu. Ia menatap mata yang besar di sewajah oriental dengan kulit kuning kilat.

Ia menarik rambut sepinggang dan mengikatnya tinggi keatas seperti membuka topeng maya pada bias sinar lampu. Semalam telah terlewat, Harza tak mengabarinya lagi seperti sudah lama sekali ia tak mendengar tawa ringan tak berbeban. Diska meraih telepon genggamnya, menatap pesan elektronik dan pesan lainnya. Hari ini hari merindu lagi, setelah kepindahannya yang jauh memisahkan dirinya dengan sahabatnya di dimensi lain.

Tak satupun nama yang ia ingat kecuali Indira, kawannya yang membawanya ke klab malam di kota Dublin, yang ia tahu hanya mata berbeda-beda warna dan tangan-tangan liar yang mencoba menyentuh. Tapi kali itu ia tak perduli. Diska terjebak pada sisi ruang dan waktu yang jauh dari masa lalu, ketika ia berpindah menjauhi negara asalnya demi memutuskan bersekolah tinggi. Ini bukan hanya tentang karirnya melainkan harkat keluarga. Menyisakan kasih sayang yang ditinggalkan setengah jalan dengan penyesalan. Linu di dadanya ia abaikan, ia masih seperti dulu, dan tetap akan menjadi seperti itu. Pikirnya. Namun andai saja, dapat kembali. Diska ingin mengatakan kepadanya, suatu pagi cerah di harinya saat mereka saling membuka mata dan terbangun di ruang yang sama, ia masih ada di Malang kala itu. Ia, berandai jika ketika itu ia sanggup mengatakannya. Kasih sayangnya kepada sahabatnya.
Diska menunduk menyudahi renungannya, ada beribu-ribu jarak yang memisahkan semua rasa yang ada, ketika ia memutuskan untuk pergi maka saat itu pula pilihan telah memisahkan hati dari logikanya, ia tak memperjuangkan apapun.

“Harza..” Diska berbisik pelan.

Mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakannya dengan pelan. Berjalan bertapak pada sisa-sisa ubin yang tak ditiduri manusia-manusia pesta yang tak sadar matahari telah datang, melengos pada rasa apatis, berlalu pergi.


*

Sudah dua bulan hari Harza tak mengabari, Diska mulai resah menatap laptopnya berkali-kali berharap nama Harza muncul di layar biru sebagai icon dan berbicara hanya dengan huruf yang menyapa. Sesekali ia mengecek telepon genggamnya tapi tidak ada siapapun. Pada titik ini dia merasa bahwa jika manusia mempunyai ikatan satu sama lain namun tak dapat bertahan jikalau hidup di dimensi yang lain mungkin sebenarnya mereka tak jatuh cinta satu dengan lainnya. Mereka hanya terjebak oleh momen, sehingga pada pertemuan itulah yang menyebabkan mereka jatuh terpaksa jatuh cinta cinta, karena dengan sengaja bertemu pada waktu tersebut. Maka mencintai pada masa itu saja, setelahnya semua berakhir, dimensi bergulir, semua berubah. bisa jadi cinta itu temporer.

Diska menahan ngilu hatinya sekali lagi. Bertanya-tanya jikalau memang ternyata Harza mulai melupakannya, atau disana sudah ada hati yang lain yang seindah bayangannya dulu-dulu tentang perempuan yang sempurna, yang tak seperti dirinya.

Bagi Harza, Diska tak layak dikatakan perempuan pada lazimnya, kala itu Diska sesumbar, tertawa terbahak-bahak sedikit bangga. Karena ia mengalahkan pemikiran harza mengenai suatu masalah, yang terpecahkan olehnya, Diska tak berdandan feminin, tak pernah menjadi cantik dan lembut didepan Harza, diska selalu mewarnai bincangan dirinya dengan mimpi-mimpi, perdebatan dan ambisi. Kala itu ia berjanji, untuk tetap bersama Harza sampai ia mencapai mimpinya. Tapi ketika itu ia kecewa, Harza tak menentukan ia dimana, saat Diska menggambarkan impiannya.

Jadilah sebuah mimpi indah dengan Diska didalamnya, namun Harza tak pernah menuliskan dirinya di masa depan Diska. Diska sadar, Harza mungkin tak mengharapkan dirinya berada disana bersamanya.

“are you going to do something with that laptop or you gonna go with me?”

Indira memecah lamunannya, Diska kaku pada posisinya menghadap langsung di laptopnya tanpa melakukan apapun. Hanya memandangi saja seperti sedang menonton tv, menyaksikan orang datang dan pergi tanpa ada yang menyapanya. Jikalau kau jauh, mungkin semua orang akan melupakan kehadiranmu, itu hukum alam. Tetapi suatu ikatan tak terlihat, akan membawamu kembali ke sisi-sisi historis kemudian dengan cara yang tak terduga, memastikan kehadiranmu di masa mendatang.

Indira tersenyum, mengisaratkan bahwa ia mengerti dan paham benar apa yang dirasakan oleh teman sekamarnya, ia pernah bercanda kepada Diska, long distance relationship will not going to work, itu hanya akan menambah pekerjaan-pekerjaan tidak penting. Selama tugas-tugas analisis thesis dan part time job bisa mengisi waktumu dan kantongmu, tinggalkan laptop dan janji-janji palsu di video-call. Sia-sia tuturnya, mantan kekasih Indira memutuskan hubungan yang ia pertahankan setahun dari ribuan miles Dublin-Jakarta. Alasannya satu, Indira tak pernah ada untuknya disaat ada hati lain yang datang menemani hari-harinya. Diska seperti ditampar lagi.

“what sort of thing i’m working on if i actually have no relationship with him?”

Saat itu Indira berkata dengan ringan, “jika kita semakin dewasa dan mengerti satu sama lain, ikrar hanyalah janji yang mengikat, sisanya jika kamu tak mengatakan apapun namun setiap hal yang kamu lakukan dan ia lakukan dapat diartikan sama dengan pemahaman, dan kalian tahu bahwa kalian saling menyayangi. Tak usah khawatir pada dimensi jarak dan waktu. Karena cinta dapat menunggu hati”

Kemudian ia sadar, mungkin Harza tak akan pernah menunggunya, karena Diska tak pernah mengatakannya, bahwa hanya dialah sosok yang selama ini ia sayangi sekalipun Harza sering mengatakannya. Harza mungkin tak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Diska mengecek lagi laptopnya, bernafas lirih. Bertanya dalam hati,dimana manusia dapat membunuh rasa sepi? Seolah-olah semua yang telah dilakukan dan akan ia lakukan niscahya akan sia-sia jika tidak dapat dibagi. Hari ini, atau kelak nanti.

“Indira mau kemana?” tanya Diska pelan
the same club we went last weekend” jawab Indira sembari membenarkan bulu matanya dengan mascara di depan kaca.

“aku ikut ya.” Diska beranjak, bersiap-siap, bersiap menjadi pembunuh bagi rasa sedihnya, berlari jauh dari hatinya.


*


“kamu tau ka, aku menyayagimu, jangan pernah tinggalin aku ya Ka”

“bagaimana kamu mengartikan itu za?”
“ya sayang Ka, sayang sama kamu”
Berkali-kali ia memandangi kata-kata itu, di pesan setahun lalu yang tersimpan dalam ponselnya. Ada rasa sesal bertumpuk-tumpuk berantakan, Diska sudah tak dapat lagi menampik rindunya akan tawa sederhana dan hari-hari terdahulu. Diujung bibirnya ada kata maaf yang tak terucap menggantungi bagai hutang yang ditagih, namun terlambat dilunasi.
Kini siapa yang meninggalkan siapa?, kemudian ia berusaha tak bertanya hal yang tak ingin dia tanyakan;

‘untuk apa ia menjalani semua ini jika ia tak dapat berbahagia?’

‘untuk apa dan untuk siapa?’

Bulan ini bulan kelima genap Harza tak mengabari, akhirnya salah satu sahabatnya memberi tahu bahwa Harza tengah menghadapi masalah di Malang. Sengketa perusahaan ayahnya membuat Ayah Harza stroke sedangkan ia yang belum menamatkan perkuliahannya harus mengurusi permasalahan hukum dan sebagai anak laki-laki tertua, Harza kini menjadi bulan-bulanan rekan kerja, klien dan juga pendiri hukum. Fitnah bisnis dan penghianatan telah menghancurkan usaha keluarganya. Kini Harza dan Bundanya diwajibkan melaksanakan proses pemeriksaan di pengadilan. Maka tak akan ada waktu lagi untuk harza menyapa Diska di internet atau menyempatkan menelponnya sesekali seperti dulu. Adik-adiknya yang masih di bangku sekolah menjadi prioritasnya dan ayahnya yang kondisinya semakin memburuk memaksanya mengambil peran di keluarga.

Kali ini Diska merasa seutuhnya tidak berguna, tak ada untuknya disaat sulitnya. Tak tahu cara menghubunginya, semua email, pesan telpon tak pernah dibalas lagi. Sosok Harza seperti lenyap bagai asap-asap rokok yang ia tiupkan dalam gundahnya. Menatap kalimat itu berkali kali, sahabatnya yang menyayanginya tanpa ia beri kesempatan. Lalu ia teringat kata-katanya pada Harza;

“do not falling love with me harza, i don’t have heart. I will marry a saint”

Walaupun mereka sama-sama tertawa, kala itu raut muka Harza berubah dia tahu bagi Diska Harza bukanlah sosok lelaki yang sempurna dalam impiannya. Begitu pula ia memimpikan wanita lembut dengan pengabdian seutuhnya. Kepada keluarga, bukanlah wanita modern metropolis yang mengejar impiannya demi memenuhi pendar-pendar mimpi. Di titik itulah mereka tak bertemu. Mereka sama-sama memimpikan kesempurnaan pada pasangan hidup. Hingga sadar yang mereka cari bukanlah itu, tapi rasa memiliki dan mengisi.

Tetapi hati tak dapat membohongi, kasih sayang memang nyata dirasa namun tak dapat terlihat. Namun ada jeruji gengsi dan tembok mimpi tinggi yang menghadang kata-kata itu untuk terucap, Diska takut jatuh hati, takut kecewa, takut tak mempunyai ruang dan waktu bagi ambisinya, karena ia takut berkorban buat hal yang tak nyata. Mendadak Diska mual dengan tabiat dirinya, menangis ingin memuntahkan penyesalan, menghawatirkan Harza. Mengingat hakikat perempuan sebagai pendamping laki-laki seutuhnya, meratapi peran yang ia tinggalkan, merasakan dirinya terbakar dalam khawatir yang medalam dan tak dapat melakukan apapun untuknya.

Diska gusar, ia menyalakan rokok sekali lagi dan menariknya dalam-dalam. Membuka jendela malam itu, menangis pelan agar Indira tak mendengarnya dan tak terganggu olehnya. Ia memandang ke atas langit dan merasakan dirinya menyatu dengan kesepian jalan di sepertiga malam. Bagi perempuan pejuang sepertinya, sulit menerima keadaan untuk tak dapat melakukan apapun di masa ini, terlebih untuk satu-satunya yang ia cintai, Harza.

Ia mengangkat dagunya dan menengadah ke langit, berdoa;
“Tuhan, aku tahu aku telah lama meninggalkan-Mu, namun jika aku diberi kesempatan kali ini untuk berharap dan mendapatkan pengabulan dari-Mu, berikanlah balasan dari kebaikan yang pernah kulakukan, untuk kekuatan bagi yang aku cinta, dan berilah waktu untukku untuk mengatakannya, bahwa aku tak pernah berhenti mencintainya”

Ia menutup mukanya, menghapus air mata.


*

Suatu variasi nomer Indonesia tak dikenal muncul di teleponnya, membangunkan Diska di Subuhnya yang sunyi. Meninggalkan missed call. Ia menutup matanya pelan, Berusaha tertidur kembali. Kali kedua telpon itu kembali berbunyi, dengan daya upaya Diska menjawab.

“hallo..”

Terdengar suara jauh yang bergetar, meruntuhkan dinding waktu dan jarak. Menjawab pengharapan dalam keraguan dan kekahawatiran Diska tentang kasih sayang sepihak yang dipertanyakan. Memutar kembali memori dan membawa kembali senyum di bibirnya. Hatinya bergemetar takut sekaligus bahagia.

“Kaaa, mereka nyiksa aku kaa..”

“kamu dimana za? Kenapa? Kamu sama siapa sekarang?”

“Kaa. Semuanya ancur Ka” Diska menangis, namun ia tahan ia tak ingin menambah beban dirinya yang jauh disana. Dari pertama kali bertemu di bangku kuliah, hingga subuh ini, baru kali ini Diska mendengar putus asa dari Harza, yang baginya lampu ide, logo kesemangatan masa muda, dan penghibur semua orang.

“Kamu kenapa Zaaa, jangan seperti ini Za. Please, aku khawatir”

“Semuanya berantakan Ka..” suara Harza menangis tegar. Diska mengerti tak akan cukup waktu menceritakannya di telepon. Ketika itu Diska hancur lebur seiring getaran suara Harza, seketika ia ingin menghilang ditelan bumi, Harza yang selama ini menjadi teman tawanya, yang ia cinta dan tak pernah sedikitpun menunjukkan duka di lelahnya telah termakan musibah. Sakitnya Diska bukanlah tak dapat menahankan pedih, namun ia tak dapat berada di sisinya. Terjebak pada kotak logika dan terkunci oleh materi. Kali ini ia tak dapat memberi solusi.

“Harza, tolong jangan pernah menyerah Zaa”

Suara itu diam, tak berkata hanya bernafas saja. menunggu suara tertahan itu adalah detik-detik terlama dalam penantian hidup Diska, bukan seperti detik-detik menunggu penghargaan, bukan detik-detik penantian mimpi-mimpinya untuk menjadi nyata. Hanya menunggu suara itu kembali melafalkan nyawa, dan menjawab panggilan hatinya yang kosong dan sepi akan cintanya yang terpisahkan oleh masa.
“Zaaa.. Zaaa, jawab aku dong”

Seketika telepon itu mati. Diska panik menggigit bibirnya. Dinyalakan laptopnya, dan dia berkali-kali mencoba menelpon nomer tersebut. Namun Harza tak ada di jejaring sosial. Dan ia tak tersambungkan di telpon Diska.

Ia menjadi zombie yang terpenjara dalam ruang jiwanya. Harza menghilang.

Ia menyandarkan diri ke ranjang yang sempit, mengelap air mata. Menunggu cintanya datang kembali dari ribuan kilometer mengirimkan nyawa agar kembali hidup lagi dirinya.


*

Satu jam berlalu dalam lamunan, Diska bagai mati suri, merasa dirinya dekat dengan kematian karena setengah darinya tak bertuan dan tak diketahui dimana juga bagaimana keberadaannya. Ia mulai mencari alasan mengapa harus bertahan, dan tak menemukan apapun. Menghamba kepada logikanya mengais-ngais realitas, tapi ia tetap menemukan Harza di hatinya.

Mati suri. Raga tak bertuan.

Diujung kakinya ada lampu sinyal menyala kecil, Seketika telponnya berbunyi, ada pesan untuknya.

‘batreku habis, baru saja aku charge Ka’

Sontak Diska langsung menelpon kembali ke nomer tersebut, dari jauh suara Harza menjawab, kali ini tak bergetar seperti menit-menit lalu. Kini ia sudah tenang, namun Diska tak dapat menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya. Menahan rasa pedih cintanya yang dibaluti rasa takut akan kecewa dan kesempurnaan mimpi-mimpinya. Harzalah mimpi dan harapannya, yang nyata ia miliki namun tak pernah ia akui. Dalam lirih ia hampir terbunuh oleh egoisme dan kebanggaannya.

“Za..kamu kenapa? Kamu gimana? Kamu tau gak aku khawatir banget sama kamu. Aku udah denger semuanya Za. Za maafin aku za selama ini. Za, aku ga bisa lihat kamu seperti ini, aku gak sanggup ngebayangin kamu kenapa-kenapa di Malang” Diska menangis di telpon, ia sadar ia telah membangunkan Indira karena suaranya yang terlampau kuat. Dalam lelapnya teman sekamarnya kembali tidur lagi,

“Ka aku gak papa, tapi ini semua berat banget Ka. Aku berharap kamu disini”

“Aku juga berharap aku bisa disana Zaa buat kamu. I would do anything to be with you” Kemudian sesaat keduanya terdiam, Diska sadar ia bukanlah jatuh cinta karena moment mereka bersama dikala menyelesaikan perkuliahannya di Malang. Tapi memang rasa memiliki atas seseorang yang tak sempurna namun dapat menjadi utuh karenanya. Jika cinta memang benar dapat menunggu, maka sesungguhnya jatuh cinta adalah ketulusan untuk selamanya, yang tidak akan berubah karena dimensi jarak ataupun waktu.

“I’m so dead Ka, but i just found my hope again. I just wanted to know one thing. Kamu sayang gak sama aku Kaa?”

Detik-detik mengungkapkan cintanya merupakan detik-detik penuh ketidaksabaran, melebihi rasa keceriaannya akan semua cerita-cerita konyol atau hari-hari yang mereka lalui bersama. Hari ini ada harapan dan cita-cita untuk memiliki hidup yang dapat dibagi bersama ketidaksempurnaan yang membuatnya utuh.

“Aku selalu sayang sama kamu Za, aku gak pernah berhenti sayang sama kamu. Never did, never will

Mayang berjalan membuka jendela, mendengan senyuman di nafas Harza. dalam hatinya ia berdoa;

“Tuhan, aku tahu aku telah lama meninggalkan-Mu. Keajaibanmu menjawab semua gundahku, Tapi aku punya satu harapan lagi jika kau berkenan, sempurnakanlah dirinya karena diriku dan jadikanlah diriku sempurna baginya. Agar kami dapat berpulang disuatu masa yang sama, hingga dimensi apapun bukan alasan kami untuk berhenti jatuh cinta.”

Thursday, 12 January 2012

Soundtrack

i fell in love with the title of this song, i knew it will be cheesy lyric from it's title, then when i clicked this video on february, it became my 2011 soundtrack ever since.
everytime i get connected to the internet, this is the must listened song pop up in my tab with any other different songs
funny things i never found it in every club, lounge, or rave i went. (how come?)
and i never download it till one day at the end of 2011, i just realized i always play this song everyday from february till it (apparently) completed in december..

i guess everybody around me had enough listening to this song. but do, sing along, it feels good.



It’s raining, it’s pouring
A black sky is falling
It’s cold tonight

You gave me your answer
Goodbye
Now I’m all on my own tonight

And when the big wheel starts to spin
You can never know the odss
If you don’t play you’ll never win

We were in heaven you and I
When I lay with you and close my eyes
Our fingers touch the sky

I’m sorry baby
You were the sun and moon to me
I’ll never get over you, you’ll never get over me


SUN AND MOON - ABOVE AND BEYOND


it portrays every single thing happened last year,

i believe that is not wise to let ourself only living in a nice and joyful past,

let us make friend with time, get connected to present to stepping to the future.



thank you for fulfilling my wishes, God.

Now i'm searching for another sun and moon for this year and a little wish is stated in my mind;

let me grow..


Wednesday, 28 December 2011

Penjaga


Jiwa adalah akar terasing, dari insan manusia. Menyalurkan denyut kehidupan hingga raga. Jauh dari apa yang keluar dari tutur kata, apa yang disentuh, apa yang dikecap oleh indera. Merupakan akar tunggal dari segumpal darah bernamakan hati yang hidup di alam ganda, yang menghembuskan nafas ke seluruh tubuh dari dalam dan diluar raga.

Darinyalah kamu bergerak lincah walaupun fisikmu cacat, darinya lah kamu menjadi mayat hidup disaat raga bugar. Hati mempunyai paras cantik atau busuk, hanya empunya yang tahu, namun, manusia makhluk yang mempunyai hati pula, kadang kita bisa bersungut-sungut mengintip pada jendela, jangan berkedip sedikitpun, namun rasakan intuisi dan hubungan di udara bebas yang menyambungkan hati dengan hati, jiwa dengan jiwa lainnya, disana kamu bisa lihat,

Ada mata yang tertawa dalam tangis

Ada tangisan dalam tawa

Manusia dalam lingkup sandiwara

Manusia dalam dusta

Manusia dalam kebahagiaan yang tak tersampaikan, tidak terbagikan


Saat kamu dapat merasakannya, ketika kamu mengintip ke rusuk-rusuk berjejer berantakan dalam tubuh manusia, yang terhubung oleh nadi akar jiwa dan berdenyut sama ketika hati berkata, disanalah kamu dapat membaca, manusia dengan kelemahannya dan ketidaksempurnaannya.

Berkali-kali aku bertanya mengenai kejujuran, entah kenapa aku merasa sangat ingin menjadi sok tahu, menghakimi, menjauhi orang dan ingin sekali menghajar manusia lain dengan kata kata tajam juga benda tumpul, menyiapkan cara-cara melunaskan dendam, menyusun strategi menjatuhkan, hanya dari gerak geriknya, hanya dari kata-kata dan bahasa tubuhnya.

Hanya dari matanya, dan cara ia menuturkan kalimat pamungkasnya.

Aku pemikir yang sok tahu, karena aku dengan tidak sengaja mempelajari mengintip jiwa dan hati manusia dari matanya. Kadang kala aku cepat kecewa ketika mengerti mereka tak berjujur pada diri mereka, tidak menyambut ketulusan, tidak menjadi seperti apa adanya, aku kadang melihat mereka seperti satwa.

Itu sebabnya aku tak dapat menjelaskan mengapa aku dapat menjadi bagian hidup manusia lainnya yang tak sedarah, sedangkan memutuskan hubungan dari silsilah. Karena begitu saja, karena ketulusan hati akan dengan sendirinya terlihat, bukan karena waktu saja, tapi karena kita secara tidak sengaja dapat merasakan hubungan yang tersambung di udara, dengan tiba-tiba.

Jujurlah bahwa manusia tidak akan pernah sempurna, mereka adalah makhluk-makhluk yang membawa luka dari semua aspek hidupnya,

Hati bernyanyi dan melantunkan perih saat mereka tubuh terpaksa menjadi baja, ketika dorongan peran mengalahkan keinginan menyembuhkan. Saat kesakitan hanya dapat ditahan namun tak boleh dikeluarkan karena mungkin akan menambahkan nilainya ketika disampaikan, menambah sakit pada jiwa lainnya jika diketahui.

Sakitnya hanya dapat dirasa sendiri,


Bagi Ibu yang dicaci maki

Bagi anak yang dihantam bertubi tubi

Bagi Suami yang tak pernah dihormati

Bagi kekasih yang diselingkuhi

Bagi insan yang tak pernah dicintai

Bagi setiap jiwa yang merasa sepi


Bagi setiap hati yang membawa rasa pedih, meninggalkannya didalam dan mesti menjadi robot-robot baja apatis dan membohongi diri agar tak disakiti lagi.


Aku mengintip, sesekali bertanya, sesekali menyelidiki, jika aku perduli.

Karena banyak dari mereka yang menjahati agar tak terluka, maka mereka dengan bangga meninggalkan luka pada manusia lainnya, membohongi dirinya supaya tak merasa bersalah, dan berlalu pergi supaya tak ingat lagi.


Aku suka menjerat luka mereka, ketika berasumsi, agar mereka mengatakan padaku, bukan untuk bangganya diriku tapi untuk mereka. Lagi-lagi aku tak dapat menjelaskan kenapa,


Hanya ingin saja


Kalau ditanya untuk apa

Untuk mereka

Karena aku ingin mereka bahagia



Ternyata aku pencinta


Juga pembenci ulung. Karena kutahu, sekalinya dikecewakan, aku akan dapat memaafkan, namun tak mampu melupakan


Lucu rasanya, melihat manusia manusia pembawa luka, berjalan dengan dagunya yang tinggi, menjadi sangat offensif, menuntut, menjadi membabi buta.

Mereka seperti pasukan yang siap berperang, melawan diri masing masing, menumpuk-numpuk titik lemahnya dengan ego-egonya.

Tapi aku juga sering melihat pelangi, dengan tak sengaja kulihat saat mereka tak berkedip, saat dengan tulusnya mereka menjadi malaikat tak sempurna yang lengkap dengan lukanya, dan ia menjadi penjaga bagi makhluk lainnya, karena tahu rasanya sakit dan mengobatinya dengan keyakinan. Menggandeng setia manusia lainnya agar menjadi lebih baik

Penjaga.

Aku lihat manusia terluka yang menjadi lebih baik karena penjaganya, membayarnya dengan kesetiaan dan kasih sayang. Sehingga kata-kata yang membunuh dahulu tergantikan oleh sentuhan lembut, karena yang menjaganya mengajarkan bahwa luka bukanlah menjadi alasan untuk menjadi pasukan apatis pemakan kebahagiaan lainnya.

Aku melihat, kedamaian setelah kemarahan besar hanya karena tutur kata yang menenangkan. Aku melihat, runtuhnya kebencian hanya dengan pelukan yang tulus. Aku melihat, congkak dapat tertransformasi menjadi iba karena kesabaran. Aku melihat satu atau beberapa penjaga bagi insan yang terluka, sehingga mereka membawa luka yang berwarna, menerima dan menjarah cinta kemudian menyebarkannya kepada robot apatis lainnya.

Kemungkinan, itu semua ada polanya

Jika benar diatas sana Ia mengatur dengan begitu sempurnanya.

Namun Penjaga itu tak selamanya kuat dan tak dapat mendominasi waktu, ia dapat saja menghilang karena masa maupun keputusan, juga kematian. Penjaga yang mungkin sahabatmu, kekasihmu, ayahmu, pembantumu, penasihat, ataupun teman maya.

Ingatlah,

manusia tak pernah sempurna,

dengan kekurangannya ia membawa luka..



Mungkin penjaga tak sabar,

Mungkin penjagamu tak berumur panjang,

Mungkin penjagamu tak mampu menahan derita menjadi tumpuan saja

Ia mungkin menunggu untuk bertumpu pada satu diri lainnya agar ia menjadi aman, ia mungkin lari ke diri lain ketika tak cukup kuat menahan letih karena luka yang kamu buat.

Ingatlah dan jujurlah bahwa semua manusia membawa luka, yang terkadang berdenyut juga ketika hati berdegup dan jiwa menyalurkan nafas kepada seluruh tubuh hingga ia bernuansakan lirih . Yang dapat kamu lihat, atau juga tidak.

karena, banyak yang ahli berpura-pura..


Jika kamu tak mencoba mengerti atau setidaknya ingin tahu.

Kamu akan tahu saatnya jika kamu dengan tak sadar menjadi manusia yang lebih baik karena seseorang, maka ia merupakan orang yang tepat bagimu, maka dengan segala sesuatu yang kamu punya berusahalah melakukan hal yang sama. Bantu dia, selamanya

Ia penjagamu, kamu penjaganya. Vice versa

Saling menjaga

Namun jika dengan satu dengan berbagai hal kamu tak dapat bersama dengannya, tak dapat menjadi penjaganya, dan ia tak lagi mampu menjagamu. Maka mungkin sudah saatnya kamu menjadi penjaga bagi manusia lainnya, agar kamu dapat menjadikan ia lebih baik karena dirimu.


Lakukanlah dengan sebaik-baiknya karena ketidaksempurnaan selalu membatasi, begitupula waktu.


Mungkin tidak pernah ada jiwa yang jahat sebenar-benarnya, yang ada hanya hati yang terluka sehingga jiwa melafalkan kebencian. Sehingga raga menjadi baja penghancur.

Mungkin tak ada suami, ayah, ibu, kekasih, pemimpin, sahabat, keluarga dalan konteks hubungan kemanusiaan sebenarnya, yang ada hanya peran.

Dengan ketidaksempuraannya manusia akan senantiasa menyakiti dan disakiti. Tetapi menjadi lebih baik adalah pilihan


Pernahkah kamu mencoba?

Mengintip sesekali kedalam luka?

Jangan berkedip, dimatanya, rasakan sakitnya dan buatlah pelagi dari emosinya, jadilah penjaga, dan berbahagialah jika ia dapat menjagamu pula.


Karena hati dan jiwa merupakan benda terasing yang terletak jauh dari raga, yang tak mati ketika suatu hari tubuh meranggas luruh.


Yang tidak dapat menyembunyikan siapa dirimu sesungguhnya.


Tak ada sesungguhnya manusia yang tak terluka.

Mereka, hanya berputar putar dalam peran di lingkup sandiwara.



Tuesday, 22 November 2011

midnight mailing

Midnight Mail recieved ;


…Oh ya, untuk Bintang Timur jauh dimata dekat via selular. Terima kasih untuk nama kuning, ternyata saya menemukan sesuatu disana, yaitu diri saya. Ternyata benar, jika ingin mengetahui siapa dirimu, pergilah ketempat yang jauh, berkenalanlah dengan orang-orang baru, sedikit demi sedikit, akhirnya 4 tahun itu tidak hanya menghasilkan dokumentasi puluhan Gigabyte tetapi juga jati diri, untuk diri saya…

…karena saya pernah menemukan beberapa kata dari si sorayamonster, bahwa “kesusahan adalah media untuk melipatgandakan kebahagiaan”. Kesusahan. Ke-usaha-n. U-S-A-H-A. Terima kasih sorayamonsters sudah kembali membantu saya menemukan diri saya melalui kalimat-kalimat anda. Anda memang jelmaan kaum gelap kebanyakan kode dalam bahasa anda hahaha…



yellow.




Midnight mail replied;


For every guardian colors, I believe in yellow. If its left behind on those west city, I would humbly bring a miror to reflect her with the sun so she would be bright coloured by white of the sun but receive yellow on her face as a smile. No need to worry, you do have a boss inside and its totally independent and could not deal with a half gradation, but boss, however need to learn.

We, however turns to be grey sometimes.

Punya kristal banyak tidakpapa loh, sbenarnya kalau sadar si kristal yg dijaga oleh perfeksionisme itu dilihat secara mendalam, ternyata sudah sempurna. Butuh dirawat saja dengan adil.

Boss bukan pemain sirkus tapi boss punya hak merasakan sakitnya menjaga abu-abu sebelum dia menemukan warna yg senada dengan kuning di kristal lainnya yang akan dia jaga suatu hari nanti.

Dimana dia mengalah untuk suatu kenyamanan, bukan kemenangan atas ambisi, atau kesenangan sia-sia. Saat itu ia akan menjaga smua kristal yg berwarna senada dengan sangat seksama,mengalah karena ia harus mahir, ketika fokus itu tak bisa ia lepaskan untuk alasan membagi waktu dan tujuan pada detik yg bersamaan.

Idealisme tidak membunuh hati, selama ia bersifat menyeimbangkan, bukan menghancurkan.


Tak apa, menggandakan kebahagiaan setiap harinya jika meyakini kataku mengenai kesulitan, hanya sekeliling akan gemas dan ingin maju membantu jika kuningterlihat menderita, padahal, didalamnya ia sedang bersenang-senang dengan gilanya. Kepuasan batin. Yang tak biasa dan tidak ditemukan dimana2. Wonderland, yang tak ada lagi di dunia nyata.


Aku akan membiarkannya mengikuti boss nya
Menjadi pengusaha di definisi tak konvensional
Ia akan berhasil, lihat saja.

Aku tak pernah lihat dia tidak berhasil dengan usaha 45nya.

Saat itu semakin dekat yah? Sehingga ia menjadi khawatir dan mulai kehilangan arah. Bagiku saat-saat itu sebenarnya sudah tiba ketika ia meninggalkan kota kami dengan mengambil keputusan tercepat, kembali memimpin sesuatu sumber inspirasi yg ia (dan aku) cintai saat itu.


Kami, sama-sama mendelay bom waktu.
Kali ini jangan ya, mari hadapi kenyataan,


dimana kamu berada dengan senyum tulus dan diinterpretasikan dengan terlalu baik, menggoda atau senyum coba-coba

Dimana semua orang menjabat tanganmu dan berasumsi kamu baik-baik saja

Dimana smua orang ada dijalurnya menjalani kehidupan dan siap menendangmu jika kamu menghalanginya.



Jika selesai berkomunal disana, tetaplah bahagia, karena itu bukan goal kan? Dan tidak perlu berobsesi untuk meraihnya.


Jadilah apapun, setan, perempuan, pemimpin, penjahat, penjilat, malaikat.. Tapi kembalikan pada tuhan,
Karena jika kamu hilang arah kamu akan kembali
Karena jikalau jadi gila, kamu tak sendiri

Karena, ketulusan atas semua keadaan, harta, kebanggaan, keluarga bahkan cinta bersumber dan kembali kepadanya dan semua bermukim di hati.

Si boss yg membuatmu gila dari kecil sampai skrg karena ia yg memerintah raga dan merajai semua hal, bahkan menjadikan apapun tak terdengar.

Dia harus belajar.

Mentolerir

Agar tak arogan

Itu saja.



Jangan hilang arah dan fokus atas asumsiku, karena aku masih dalam titik start yang dinegosiasi.

Kamu tak sendiri kok. Tenang saja.

Kamu hanya mencari rumah terakhir, kemana harus pulang membawa smua kristal. Dan dijalan, agaknya tertatih tatih karena boss keberatan membawa smua kristal yang dia pikir lucu tapi tak perlu.

Mungkin.

Hanya persepsi


Tidak ada yang pasti.



Anyway,
I saw a moonlight tonight, and its yellow on it's full circle, life is better yellow. Funny I see all over sky is black and grey, but I found a moon now become yellow in the dark.

And it's always a smile behind struggle.

Even we justify things, we always know which one is the right one, but the right one is not always the best one.


We just really need to decide
And fit in






Regards


Easterstar, a monster



*PS :
I do communicate with code, it’s how I make all of the words protected, and codes only work for you and me. So nobody else could understand.


And when I call people with different name, I just clarify, they are meaningful for me.

I give ‘em the name, referring to every codes.