Wednesday, 28 December 2011

Penjaga


Jiwa adalah akar terasing, dari insan manusia. Menyalurkan denyut kehidupan hingga raga. Jauh dari apa yang keluar dari tutur kata, apa yang disentuh, apa yang dikecap oleh indera. Merupakan akar tunggal dari segumpal darah bernamakan hati yang hidup di alam ganda, yang menghembuskan nafas ke seluruh tubuh dari dalam dan diluar raga.

Darinyalah kamu bergerak lincah walaupun fisikmu cacat, darinya lah kamu menjadi mayat hidup disaat raga bugar. Hati mempunyai paras cantik atau busuk, hanya empunya yang tahu, namun, manusia makhluk yang mempunyai hati pula, kadang kita bisa bersungut-sungut mengintip pada jendela, jangan berkedip sedikitpun, namun rasakan intuisi dan hubungan di udara bebas yang menyambungkan hati dengan hati, jiwa dengan jiwa lainnya, disana kamu bisa lihat,

Ada mata yang tertawa dalam tangis

Ada tangisan dalam tawa

Manusia dalam lingkup sandiwara

Manusia dalam dusta

Manusia dalam kebahagiaan yang tak tersampaikan, tidak terbagikan


Saat kamu dapat merasakannya, ketika kamu mengintip ke rusuk-rusuk berjejer berantakan dalam tubuh manusia, yang terhubung oleh nadi akar jiwa dan berdenyut sama ketika hati berkata, disanalah kamu dapat membaca, manusia dengan kelemahannya dan ketidaksempurnaannya.

Berkali-kali aku bertanya mengenai kejujuran, entah kenapa aku merasa sangat ingin menjadi sok tahu, menghakimi, menjauhi orang dan ingin sekali menghajar manusia lain dengan kata kata tajam juga benda tumpul, menyiapkan cara-cara melunaskan dendam, menyusun strategi menjatuhkan, hanya dari gerak geriknya, hanya dari kata-kata dan bahasa tubuhnya.

Hanya dari matanya, dan cara ia menuturkan kalimat pamungkasnya.

Aku pemikir yang sok tahu, karena aku dengan tidak sengaja mempelajari mengintip jiwa dan hati manusia dari matanya. Kadang kala aku cepat kecewa ketika mengerti mereka tak berjujur pada diri mereka, tidak menyambut ketulusan, tidak menjadi seperti apa adanya, aku kadang melihat mereka seperti satwa.

Itu sebabnya aku tak dapat menjelaskan mengapa aku dapat menjadi bagian hidup manusia lainnya yang tak sedarah, sedangkan memutuskan hubungan dari silsilah. Karena begitu saja, karena ketulusan hati akan dengan sendirinya terlihat, bukan karena waktu saja, tapi karena kita secara tidak sengaja dapat merasakan hubungan yang tersambung di udara, dengan tiba-tiba.

Jujurlah bahwa manusia tidak akan pernah sempurna, mereka adalah makhluk-makhluk yang membawa luka dari semua aspek hidupnya,

Hati bernyanyi dan melantunkan perih saat mereka tubuh terpaksa menjadi baja, ketika dorongan peran mengalahkan keinginan menyembuhkan. Saat kesakitan hanya dapat ditahan namun tak boleh dikeluarkan karena mungkin akan menambahkan nilainya ketika disampaikan, menambah sakit pada jiwa lainnya jika diketahui.

Sakitnya hanya dapat dirasa sendiri,


Bagi Ibu yang dicaci maki

Bagi anak yang dihantam bertubi tubi

Bagi Suami yang tak pernah dihormati

Bagi kekasih yang diselingkuhi

Bagi insan yang tak pernah dicintai

Bagi setiap jiwa yang merasa sepi


Bagi setiap hati yang membawa rasa pedih, meninggalkannya didalam dan mesti menjadi robot-robot baja apatis dan membohongi diri agar tak disakiti lagi.


Aku mengintip, sesekali bertanya, sesekali menyelidiki, jika aku perduli.

Karena banyak dari mereka yang menjahati agar tak terluka, maka mereka dengan bangga meninggalkan luka pada manusia lainnya, membohongi dirinya supaya tak merasa bersalah, dan berlalu pergi supaya tak ingat lagi.


Aku suka menjerat luka mereka, ketika berasumsi, agar mereka mengatakan padaku, bukan untuk bangganya diriku tapi untuk mereka. Lagi-lagi aku tak dapat menjelaskan kenapa,


Hanya ingin saja


Kalau ditanya untuk apa

Untuk mereka

Karena aku ingin mereka bahagia



Ternyata aku pencinta


Juga pembenci ulung. Karena kutahu, sekalinya dikecewakan, aku akan dapat memaafkan, namun tak mampu melupakan


Lucu rasanya, melihat manusia manusia pembawa luka, berjalan dengan dagunya yang tinggi, menjadi sangat offensif, menuntut, menjadi membabi buta.

Mereka seperti pasukan yang siap berperang, melawan diri masing masing, menumpuk-numpuk titik lemahnya dengan ego-egonya.

Tapi aku juga sering melihat pelangi, dengan tak sengaja kulihat saat mereka tak berkedip, saat dengan tulusnya mereka menjadi malaikat tak sempurna yang lengkap dengan lukanya, dan ia menjadi penjaga bagi makhluk lainnya, karena tahu rasanya sakit dan mengobatinya dengan keyakinan. Menggandeng setia manusia lainnya agar menjadi lebih baik

Penjaga.

Aku lihat manusia terluka yang menjadi lebih baik karena penjaganya, membayarnya dengan kesetiaan dan kasih sayang. Sehingga kata-kata yang membunuh dahulu tergantikan oleh sentuhan lembut, karena yang menjaganya mengajarkan bahwa luka bukanlah menjadi alasan untuk menjadi pasukan apatis pemakan kebahagiaan lainnya.

Aku melihat, kedamaian setelah kemarahan besar hanya karena tutur kata yang menenangkan. Aku melihat, runtuhnya kebencian hanya dengan pelukan yang tulus. Aku melihat, congkak dapat tertransformasi menjadi iba karena kesabaran. Aku melihat satu atau beberapa penjaga bagi insan yang terluka, sehingga mereka membawa luka yang berwarna, menerima dan menjarah cinta kemudian menyebarkannya kepada robot apatis lainnya.

Kemungkinan, itu semua ada polanya

Jika benar diatas sana Ia mengatur dengan begitu sempurnanya.

Namun Penjaga itu tak selamanya kuat dan tak dapat mendominasi waktu, ia dapat saja menghilang karena masa maupun keputusan, juga kematian. Penjaga yang mungkin sahabatmu, kekasihmu, ayahmu, pembantumu, penasihat, ataupun teman maya.

Ingatlah,

manusia tak pernah sempurna,

dengan kekurangannya ia membawa luka..



Mungkin penjaga tak sabar,

Mungkin penjagamu tak berumur panjang,

Mungkin penjagamu tak mampu menahan derita menjadi tumpuan saja

Ia mungkin menunggu untuk bertumpu pada satu diri lainnya agar ia menjadi aman, ia mungkin lari ke diri lain ketika tak cukup kuat menahan letih karena luka yang kamu buat.

Ingatlah dan jujurlah bahwa semua manusia membawa luka, yang terkadang berdenyut juga ketika hati berdegup dan jiwa menyalurkan nafas kepada seluruh tubuh hingga ia bernuansakan lirih . Yang dapat kamu lihat, atau juga tidak.

karena, banyak yang ahli berpura-pura..


Jika kamu tak mencoba mengerti atau setidaknya ingin tahu.

Kamu akan tahu saatnya jika kamu dengan tak sadar menjadi manusia yang lebih baik karena seseorang, maka ia merupakan orang yang tepat bagimu, maka dengan segala sesuatu yang kamu punya berusahalah melakukan hal yang sama. Bantu dia, selamanya

Ia penjagamu, kamu penjaganya. Vice versa

Saling menjaga

Namun jika dengan satu dengan berbagai hal kamu tak dapat bersama dengannya, tak dapat menjadi penjaganya, dan ia tak lagi mampu menjagamu. Maka mungkin sudah saatnya kamu menjadi penjaga bagi manusia lainnya, agar kamu dapat menjadikan ia lebih baik karena dirimu.


Lakukanlah dengan sebaik-baiknya karena ketidaksempurnaan selalu membatasi, begitupula waktu.


Mungkin tidak pernah ada jiwa yang jahat sebenar-benarnya, yang ada hanya hati yang terluka sehingga jiwa melafalkan kebencian. Sehingga raga menjadi baja penghancur.

Mungkin tak ada suami, ayah, ibu, kekasih, pemimpin, sahabat, keluarga dalan konteks hubungan kemanusiaan sebenarnya, yang ada hanya peran.

Dengan ketidaksempuraannya manusia akan senantiasa menyakiti dan disakiti. Tetapi menjadi lebih baik adalah pilihan


Pernahkah kamu mencoba?

Mengintip sesekali kedalam luka?

Jangan berkedip, dimatanya, rasakan sakitnya dan buatlah pelagi dari emosinya, jadilah penjaga, dan berbahagialah jika ia dapat menjagamu pula.


Karena hati dan jiwa merupakan benda terasing yang terletak jauh dari raga, yang tak mati ketika suatu hari tubuh meranggas luruh.


Yang tidak dapat menyembunyikan siapa dirimu sesungguhnya.


Tak ada sesungguhnya manusia yang tak terluka.

Mereka, hanya berputar putar dalam peran di lingkup sandiwara.



0 comments: