Diska membuka matanya letih. Detik yang sama kepalanya memutar pada pusaran hingar bingar, ia duduk menegakkan kepalanya pada dudukan toilet dan menyeka liur ludah dan muntahnya. Kali ini ia mendarat tertidur di toilet berbantalkan kloset sehabis pesta semalam yang memabukkan. Ia berjalan pelan sesekali membenarkan rok mininya berkaca pada cermin mewah yang tertempel rapih pada dinding porselene apartemen temannya ditengah kota Dublin. Ia merindukan dirinya tanpa memakai gincu, yang berpakaian sederhana seperti waktu berkuliah strata satu. Ia menatap mata yang besar di sewajah oriental dengan kulit kuning kilat.
Ia menarik rambut sepinggang dan mengikatnya tinggi keatas seperti membuka topeng maya pada bias sinar lampu. Semalam telah terlewat, Harza tak mengabarinya lagi seperti sudah lama sekali ia tak mendengar tawa ringan tak berbeban. Diska meraih telepon genggamnya, menatap pesan elektronik dan pesan lainnya. Hari ini hari merindu lagi, setelah kepindahannya yang jauh memisahkan dirinya dengan sahabatnya di dimensi lain.
Tak satupun nama yang ia ingat kecuali Indira, kawannya yang membawanya ke klab malam di kota Dublin, yang ia tahu hanya mata berbeda-beda warna dan tangan-tangan liar yang mencoba menyentuh. Tapi kali itu ia tak perduli. Diska terjebak pada sisi ruang dan waktu yang jauh dari masa lalu, ketika ia berpindah menjauhi negara asalnya demi memutuskan bersekolah tinggi. Ini bukan hanya tentang karirnya melainkan harkat keluarga. Menyisakan kasih sayang yang ditinggalkan setengah jalan dengan penyesalan. Linu di dadanya ia abaikan, ia masih seperti dulu, dan tetap akan menjadi seperti itu. Pikirnya. Namun andai saja, dapat kembali. Diska ingin mengatakan kepadanya, suatu pagi cerah di harinya saat mereka saling membuka mata dan terbangun di ruang yang sama, ia masih ada di Malang kala itu. Ia, berandai jika ketika itu ia sanggup mengatakannya. Kasih sayangnya kepada sahabatnya.
Diska menunduk menyudahi renungannya, ada beribu-ribu jarak yang memisahkan semua rasa yang ada, ketika ia memutuskan untuk pergi maka saat itu pula pilihan telah memisahkan hati dari logikanya, ia tak memperjuangkan apapun.
“Harza..” Diska berbisik pelan.
Mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakannya dengan pelan. Berjalan bertapak pada sisa-sisa ubin yang tak ditiduri manusia-manusia pesta yang tak sadar matahari telah datang, melengos pada rasa apatis, berlalu pergi.
*
Sudah dua bulan hari Harza tak mengabari, Diska mulai resah menatap laptopnya berkali-kali berharap nama Harza muncul di layar biru sebagai icon dan berbicara hanya dengan huruf yang menyapa. Sesekali ia mengecek telepon genggamnya tapi tidak ada siapapun. Pada titik ini dia merasa bahwa jika manusia mempunyai ikatan satu sama lain namun tak dapat bertahan jikalau hidup di dimensi yang lain mungkin sebenarnya mereka tak jatuh cinta satu dengan lainnya. Mereka hanya terjebak oleh momen, sehingga pada pertemuan itulah yang menyebabkan mereka jatuh terpaksa jatuh cinta cinta, karena dengan sengaja bertemu pada waktu tersebut. Maka mencintai pada masa itu saja, setelahnya semua berakhir, dimensi bergulir, semua berubah. bisa jadi cinta itu temporer.
Diska menahan ngilu hatinya sekali lagi. Bertanya-tanya jikalau memang ternyata Harza mulai melupakannya, atau disana sudah ada hati yang lain yang seindah bayangannya dulu-dulu tentang perempuan yang sempurna, yang tak seperti dirinya.
Bagi Harza, Diska tak layak dikatakan perempuan pada lazimnya, kala itu Diska sesumbar, tertawa terbahak-bahak sedikit bangga. Karena ia mengalahkan pemikiran harza mengenai suatu masalah, yang terpecahkan olehnya, Diska tak berdandan feminin, tak pernah menjadi cantik dan lembut didepan Harza, diska selalu mewarnai bincangan dirinya dengan mimpi-mimpi, perdebatan dan ambisi. Kala itu ia berjanji, untuk tetap bersama Harza sampai ia mencapai mimpinya. Tapi ketika itu ia kecewa, Harza tak menentukan ia dimana, saat Diska menggambarkan impiannya.
Jadilah sebuah mimpi indah dengan Diska didalamnya, namun Harza tak pernah menuliskan dirinya di masa depan Diska. Diska sadar, Harza mungkin tak mengharapkan dirinya berada disana bersamanya.
“are you going to do something with that laptop or you gonna go with me?”
Indira memecah lamunannya, Diska kaku pada posisinya menghadap langsung di laptopnya tanpa melakukan apapun. Hanya memandangi saja seperti sedang menonton tv, menyaksikan orang datang dan pergi tanpa ada yang menyapanya. Jikalau kau jauh, mungkin semua orang akan melupakan kehadiranmu, itu hukum alam. Tetapi suatu ikatan tak terlihat, akan membawamu kembali ke sisi-sisi historis kemudian dengan cara yang tak terduga, memastikan kehadiranmu di masa mendatang.
Indira tersenyum, mengisaratkan bahwa ia mengerti dan paham benar apa yang dirasakan oleh teman sekamarnya, ia pernah bercanda kepada Diska, long distance relationship will not going to work, itu hanya akan menambah pekerjaan-pekerjaan tidak penting. Selama tugas-tugas analisis thesis dan part time job bisa mengisi waktumu dan kantongmu, tinggalkan laptop dan janji-janji palsu di video-call. Sia-sia tuturnya, mantan kekasih Indira memutuskan hubungan yang ia pertahankan setahun dari ribuan miles Dublin-Jakarta. Alasannya satu, Indira tak pernah ada untuknya disaat ada hati lain yang datang menemani hari-harinya. Diska seperti ditampar lagi.
“what sort of thing i’m working on if i actually have no relationship with him?”
Saat itu Indira berkata dengan ringan, “jika kita semakin dewasa dan mengerti satu sama lain, ikrar hanyalah janji yang mengikat, sisanya jika kamu tak mengatakan apapun namun setiap hal yang kamu lakukan dan ia lakukan dapat diartikan sama dengan pemahaman, dan kalian tahu bahwa kalian saling menyayangi. Tak usah khawatir pada dimensi jarak dan waktu. Karena cinta dapat menunggu hati”
Kemudian ia sadar, mungkin Harza tak akan pernah menunggunya, karena Diska tak pernah mengatakannya, bahwa hanya dialah sosok yang selama ini ia sayangi sekalipun Harza sering mengatakannya. Harza mungkin tak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Diska mengecek lagi laptopnya, bernafas lirih. Bertanya dalam hati,dimana manusia dapat membunuh rasa sepi? Seolah-olah semua yang telah dilakukan dan akan ia lakukan niscahya akan sia-sia jika tidak dapat dibagi. Hari ini, atau kelak nanti.
“Indira mau kemana?” tanya Diska pelan
“the same club we went last weekend” jawab Indira sembari membenarkan bulu matanya dengan mascara di depan kaca.
“aku ikut ya.” Diska beranjak, bersiap-siap, bersiap menjadi pembunuh bagi rasa sedihnya, berlari jauh dari hatinya.
*
“kamu tau ka, aku menyayagimu, jangan pernah tinggalin aku ya Ka”
“bagaimana kamu mengartikan itu za?”
“ya sayang Ka, sayang sama kamu”
Berkali-kali ia memandangi kata-kata itu, di pesan setahun lalu yang tersimpan dalam ponselnya. Ada rasa sesal bertumpuk-tumpuk berantakan, Diska sudah tak dapat lagi menampik rindunya akan tawa sederhana dan hari-hari terdahulu. Diujung bibirnya ada kata maaf yang tak terucap menggantungi bagai hutang yang ditagih, namun terlambat dilunasi.
Kini siapa yang meninggalkan siapa?, kemudian ia berusaha tak bertanya hal yang tak ingin dia tanyakan;
‘untuk apa ia menjalani semua ini jika ia tak dapat berbahagia?’
‘untuk apa dan untuk siapa?’
Bulan ini bulan kelima genap Harza tak mengabari, akhirnya salah satu sahabatnya memberi tahu bahwa Harza tengah menghadapi masalah di Malang. Sengketa perusahaan ayahnya membuat Ayah Harza stroke sedangkan ia yang belum menamatkan perkuliahannya harus mengurusi permasalahan hukum dan sebagai anak laki-laki tertua, Harza kini menjadi bulan-bulanan rekan kerja, klien dan juga pendiri hukum. Fitnah bisnis dan penghianatan telah menghancurkan usaha keluarganya. Kini Harza dan Bundanya diwajibkan melaksanakan proses pemeriksaan di pengadilan. Maka tak akan ada waktu lagi untuk harza menyapa Diska di internet atau menyempatkan menelponnya sesekali seperti dulu. Adik-adiknya yang masih di bangku sekolah menjadi prioritasnya dan ayahnya yang kondisinya semakin memburuk memaksanya mengambil peran di keluarga.
Kali ini Diska merasa seutuhnya tidak berguna, tak ada untuknya disaat sulitnya. Tak tahu cara menghubunginya, semua email, pesan telpon tak pernah dibalas lagi. Sosok Harza seperti lenyap bagai asap-asap rokok yang ia tiupkan dalam gundahnya. Menatap kalimat itu berkali kali, sahabatnya yang menyayanginya tanpa ia beri kesempatan. Lalu ia teringat kata-katanya pada Harza;
“do not falling love with me harza, i don’t have heart. I will marry a saint”
Walaupun mereka sama-sama tertawa, kala itu raut muka Harza berubah dia tahu bagi Diska Harza bukanlah sosok lelaki yang sempurna dalam impiannya. Begitu pula ia memimpikan wanita lembut dengan pengabdian seutuhnya. Kepada keluarga, bukanlah wanita modern metropolis yang mengejar impiannya demi memenuhi pendar-pendar mimpi. Di titik itulah mereka tak bertemu. Mereka sama-sama memimpikan kesempurnaan pada pasangan hidup. Hingga sadar yang mereka cari bukanlah itu, tapi rasa memiliki dan mengisi.
Tetapi hati tak dapat membohongi, kasih sayang memang nyata dirasa namun tak dapat terlihat. Namun ada jeruji gengsi dan tembok mimpi tinggi yang menghadang kata-kata itu untuk terucap, Diska takut jatuh hati, takut kecewa, takut tak mempunyai ruang dan waktu bagi ambisinya, karena ia takut berkorban buat hal yang tak nyata. Mendadak Diska mual dengan tabiat dirinya, menangis ingin memuntahkan penyesalan, menghawatirkan Harza. Mengingat hakikat perempuan sebagai pendamping laki-laki seutuhnya, meratapi peran yang ia tinggalkan, merasakan dirinya terbakar dalam khawatir yang medalam dan tak dapat melakukan apapun untuknya.
Diska gusar, ia menyalakan rokok sekali lagi dan menariknya dalam-dalam. Membuka jendela malam itu, menangis pelan agar Indira tak mendengarnya dan tak terganggu olehnya. Ia memandang ke atas langit dan merasakan dirinya menyatu dengan kesepian jalan di sepertiga malam. Bagi perempuan pejuang sepertinya, sulit menerima keadaan untuk tak dapat melakukan apapun di masa ini, terlebih untuk satu-satunya yang ia cintai, Harza.
Ia mengangkat dagunya dan menengadah ke langit, berdoa;
“Tuhan, aku tahu aku telah lama meninggalkan-Mu, namun jika aku diberi kesempatan kali ini untuk berharap dan mendapatkan pengabulan dari-Mu, berikanlah balasan dari kebaikan yang pernah kulakukan, untuk kekuatan bagi yang aku cinta, dan berilah waktu untukku untuk mengatakannya, bahwa aku tak pernah berhenti mencintainya”
Ia menutup mukanya, menghapus air mata.
*
Suatu variasi nomer Indonesia tak dikenal muncul di teleponnya, membangunkan Diska di Subuhnya yang sunyi. Meninggalkan missed call. Ia menutup matanya pelan, Berusaha tertidur kembali. Kali kedua telpon itu kembali berbunyi, dengan daya upaya Diska menjawab.
“hallo..”
Terdengar suara jauh yang bergetar, meruntuhkan dinding waktu dan jarak. Menjawab pengharapan dalam keraguan dan kekahawatiran Diska tentang kasih sayang sepihak yang dipertanyakan. Memutar kembali memori dan membawa kembali senyum di bibirnya. Hatinya bergemetar takut sekaligus bahagia.
“Kaaa, mereka nyiksa aku kaa..”
“kamu dimana za? Kenapa? Kamu sama siapa sekarang?”
“Kaa. Semuanya ancur Ka” Diska menangis, namun ia tahan ia tak ingin menambah beban dirinya yang jauh disana. Dari pertama kali bertemu di bangku kuliah, hingga subuh ini, baru kali ini Diska mendengar putus asa dari Harza, yang baginya lampu ide, logo kesemangatan masa muda, dan penghibur semua orang.
“Kamu kenapa Zaaa, jangan seperti ini Za. Please, aku khawatir”
“Semuanya berantakan Ka..” suara Harza menangis tegar. Diska mengerti tak akan cukup waktu menceritakannya di telepon. Ketika itu Diska hancur lebur seiring getaran suara Harza, seketika ia ingin menghilang ditelan bumi, Harza yang selama ini menjadi teman tawanya, yang ia cinta dan tak pernah sedikitpun menunjukkan duka di lelahnya telah termakan musibah. Sakitnya Diska bukanlah tak dapat menahankan pedih, namun ia tak dapat berada di sisinya. Terjebak pada kotak logika dan terkunci oleh materi. Kali ini ia tak dapat memberi solusi.
“Harza, tolong jangan pernah menyerah Zaa”
Suara itu diam, tak berkata hanya bernafas saja. menunggu suara tertahan itu adalah detik-detik terlama dalam penantian hidup Diska, bukan seperti detik-detik menunggu penghargaan, bukan detik-detik penantian mimpi-mimpinya untuk menjadi nyata. Hanya menunggu suara itu kembali melafalkan nyawa, dan menjawab panggilan hatinya yang kosong dan sepi akan cintanya yang terpisahkan oleh masa.
“Zaaa.. Zaaa, jawab aku dong”
Seketika telepon itu mati. Diska panik menggigit bibirnya. Dinyalakan laptopnya, dan dia berkali-kali mencoba menelpon nomer tersebut. Namun Harza tak ada di jejaring sosial. Dan ia tak tersambungkan di telpon Diska.
Ia menjadi zombie yang terpenjara dalam ruang jiwanya. Harza menghilang.
Ia menyandarkan diri ke ranjang yang sempit, mengelap air mata. Menunggu cintanya datang kembali dari ribuan kilometer mengirimkan nyawa agar kembali hidup lagi dirinya.
*
Satu jam berlalu dalam lamunan, Diska bagai mati suri, merasa dirinya dekat dengan kematian karena setengah darinya tak bertuan dan tak diketahui dimana juga bagaimana keberadaannya. Ia mulai mencari alasan mengapa harus bertahan, dan tak menemukan apapun. Menghamba kepada logikanya mengais-ngais realitas, tapi ia tetap menemukan Harza di hatinya.
Mati suri. Raga tak bertuan.
Diujung kakinya ada lampu sinyal menyala kecil, Seketika telponnya berbunyi, ada pesan untuknya.
‘batreku habis, baru saja aku charge Ka’
Sontak Diska langsung menelpon kembali ke nomer tersebut, dari jauh suara Harza menjawab, kali ini tak bergetar seperti menit-menit lalu. Kini ia sudah tenang, namun Diska tak dapat menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya. Menahan rasa pedih cintanya yang dibaluti rasa takut akan kecewa dan kesempurnaan mimpi-mimpinya. Harzalah mimpi dan harapannya, yang nyata ia miliki namun tak pernah ia akui. Dalam lirih ia hampir terbunuh oleh egoisme dan kebanggaannya.
“Za..kamu kenapa? Kamu gimana? Kamu tau gak aku khawatir banget sama kamu. Aku udah denger semuanya Za. Za maafin aku za selama ini. Za, aku ga bisa lihat kamu seperti ini, aku gak sanggup ngebayangin kamu kenapa-kenapa di Malang” Diska menangis di telpon, ia sadar ia telah membangunkan Indira karena suaranya yang terlampau kuat. Dalam lelapnya teman sekamarnya kembali tidur lagi,
“Ka aku gak papa, tapi ini semua berat banget Ka. Aku berharap kamu disini”
“Aku juga berharap aku bisa disana Zaa buat kamu. I would do anything to be with you” Kemudian sesaat keduanya terdiam, Diska sadar ia bukanlah jatuh cinta karena moment mereka bersama dikala menyelesaikan perkuliahannya di Malang. Tapi memang rasa memiliki atas seseorang yang tak sempurna namun dapat menjadi utuh karenanya. Jika cinta memang benar dapat menunggu, maka sesungguhnya jatuh cinta adalah ketulusan untuk selamanya, yang tidak akan berubah karena dimensi jarak ataupun waktu.
“I’m so dead Ka, but i just found my hope again. I just wanted to know one thing. Kamu sayang gak sama aku Kaa?”
Detik-detik mengungkapkan cintanya merupakan detik-detik penuh ketidaksabaran, melebihi rasa keceriaannya akan semua cerita-cerita konyol atau hari-hari yang mereka lalui bersama. Hari ini ada harapan dan cita-cita untuk memiliki hidup yang dapat dibagi bersama ketidaksempurnaan yang membuatnya utuh.
“Aku selalu sayang sama kamu Za, aku gak pernah berhenti sayang sama kamu. Never did, never will”
Diska berjalan membuka jendela, mendengan senyuman di nafas Harza. dalam hatinya ia berdoa;
“Tuhan, aku tahu aku telah lama meninggalkan-Mu. Keajaibanmu menjawab semua gundahku, Tapi aku punya satu harapan lagi jika kau berkenan, sempurnakanlah dirinya karena diriku dan jadikanlah diriku sempurna baginya. Agar kami dapat berpulang disuatu masa yang sama, hingga dimensi apapun bukan alasan kami untuk berhenti jatuh cinta.”
0 comments:
Post a Comment